Pesona Rawa Aopa Watumohai Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara kaya akan destinasi wisata. Laut, pulau-pulau cantik, hingga rawa gambut semua ada. Dari gua purba pulau muna, air terjun moramo, taman nasional laut Wakatobi hingga Istana Wolio, semua masih lestari.

Benteng Kraton Buton yang terdapat di Sulawesi juga memiliki predikat sebagai benteng terluas di dunia versi World Record. Sementara di Kolaka terdapat sungai terpendek di dunia. Selain Taman Nasional Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara memiliki taman nasional hutan dataran rendah Tanjung Peropa dan Taman Nasional Lambusanga. Bahkan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai menjadikan rawa sebagai lahan utamanya.

Lokasi Rawa Aopa

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan taman rawa seluas kurang lebih 1.050km yang terbentang di empat kabupaten : Konawe, Konawe Selatan, Bombana dan Bombana Barat. Taman nasional ini ditetapkan pada tahun 1989, menjadi tempat hidup 155 spesies burung (37 diantaranya endemik) serta 323 spesies tanaman langka. Selain itu, juga sebagai lahan untuk mencari nafkah penduduk yang berprofesi sebagai nelayan air tawar. Berbagai jenis ikan, mulai ikan gabus, pepuyu, bawung, nila dan sepat mereka tangkap dengan jala, bubu atau pancing. Sementara rumput dan pandan baru dianyam sebatas tikar, belum banyak dikreasikan sebagai bahan kerajinan.

Perkampungan Rawa Aopa Watumohai Perkampungan Rawa Aopa Watumohai

Rawa Aopa memang tempat hidup bermacam jenis teratai, mulai teratai merah, putih, ungu hingga perpaduan beberapa warna sesuai cuaca. Ada yang mengapung dari jenis kiambang, ada yang tegak serupa anyelir. Selain teratai, mata dimanjakan dedaun talas yang lebar, panda berduri, pudak hijau, rumput bulat, dan bunga bakung. Keindahannya sangat khas. Tak pelak pastilah surga bagi mereka yang gemar traveling yang dipadupadankan dengan dunia fotografi.

Selain keindahan tanaman rawa, mata juga gampang menangkap kehidupan hewan dan serangga. Seekor kodok melompat, nyemplung ke air. Gema perciknya menyatu dengan kecipak dayung, disambut deru angin santer yang membuat rerumputan berombak. Itulah suara-suara alam yang nyaman buat disimak. Tak kalah menarik mengamati warna permukaan air yang memantulkan dasar genangan. Ada kuning keruh lantaran lumpur, ada kehijauan karena ganggang, ada pula kebiruan karena getah akar pohon. Sesekali terlihat elang menukik menyambar mangsa, barisan bangau terbang menggurat garis cakrawala. Taman Rawa Aopa surga bagi beraneka jenis burung seperti bangau langka aroweli, bangau tongtong, sandang lawe, raja udang, belibis, pelikan dan alap-alap dada merah. Di bagian savana, ada burung maleo, punai emas dan burung madu hitam. Maklumlah, karena kawasan ini menjadi kantong lintasan burung-burung migrasi dari Asia ke Australia dan sebaliknya.

Habitat Rawa Aopa WatumohaiHabitat Rawa Aopa Watumohai

Rawa luas ini tak hanya berhenti pada pesona yang tertangkap mata telanjang. Namun lebih jauh bisa dijadikan referensi sebagai laboratorium alam bagi peneliti habitat, ekosistem, dan siklus berbagai makhluk hidup. Bagi petualang alam bebas, rawa ini pastilah menantang untuk dijelajahi. Pengamat burung tinggal menyiapkan teropong. Bagi penghobi mancing perlu melempar mata kail sebab memancing ikan rawa tentu lain sensasinya.